Minggu, 04 Oktober 2009

Bulog Kembangkan Tepung Ubi Kayu
Pangan ini ditujukan daerah bencana alam atau rawan krisis pangan.
Kamis, 26 Februari 2009, 18:33 WIB
Hadi Suprapto, Elly Setyo Rini
tepung tapioka (www.bi.go.id)

VIVAnews - Perum Bulog berinisiatif mengembangkan tepung ubi kayu (cassava) sebagai alternatif pangan baru. Sudah satu tahun ini, bagian penelitian dan pengembangan Bulog mengembangkan mocaf. Mocaf merupakan kepanjangan dari modified cassava floor alias tepung ubi kayu modifikasi.

Menurut Direktur Utama Perum Bulog Mustafa Abubakar program ini merupakan fokus diversifikasi pangan yang dikembangkan untuk mempersiapkan pangan darurat nonberas untuk daerah bencana alam atau rawan krisis pangan. "Pernah diujicobakan di Papua pada waktu krisis pangan untuk menggantikan mie instan, ternyata direspon baik," kata dia Mustafa di kantornya, Kamis, 26 Februari 2009.

Mustafa mengakui konsep pengembangan ini akan diarahkan ke sisi komersial Bulog. Sehingga Bulog benar-benar independen untuk menginisiasi pengembangan ubi kayu sebagai murni bisnis. Karena itu, Bulog bekerja sama dengan beberapa perusahaan swasta untuk memproduksi tepung ubi kayu dan mensubstitusi tepung terigu dengan tepung ubi kayu.

Contohnya, Orang Tua Group, kandungan biskuitnya sudah ada 20 persen dari ubi kayu. "Pada waktu saya kunjungan ke pabriknya di Cibitung, mereka bilang akan terus berupaya mengurangi kandungan terigu," kata Mustafa. Beberapa perusahaan swasta lain, disebutkan ada PT Tiga Pilar Sejahtera di Solo dan beberapa perusahaan di Pati dan Cianjur.

Bulog mencatat, produksi nasional ubi kayu dalam setahun bisa mencapai 15 juta ton, jika dikeringkan akan menjadi sepertiganya, yaitu sekitar 5 juta ton. Namun, saat ini dari hasil kerja sama dengan beberapa perusahaan swasta bisa mencapai 50 ton per hektar.

"Produksinya masih bisa diperbesar karena pada dasarnya mereka yang bekerja di pabrik tapioka bisa membuat sendiri tepungnya," kata Kepala Litbang Bulog M Suharno.

Suharno menambahkan ubi kayu bisa ditanam hampir di semua lahan, terutama di Jawa dan Sumatra. Lahan perkebunan ubi kayu terbesar ada di Lampung. Bahkan, 1 juta hektar lahan gambut di Kalimantan Barat bisa digunakan."Permasalahannya ada pada pemasaran dan bagaimana memfasilitasi perusahaan yang ada," katanya.

Untuk perkebunan ubi kayu, Tiga Pilar telah membuka 15 ribu hektar lahan di Kalimantan Selatan untuk perkebunan inti dan plasma nutfah. Bahkan mereka juga lakukan penelitian kayu ubi untuk tenaga listrik.

Tepung mocaf ini, kata Suharno, rencananya juga akan diekspor ke Filipina. "Salah satu perusahaan di Jawa Tengah berkomitmen ekspor ke sana," ujarnya. Sedangkan China sudah pesan khusus dari perusahaan di Kalimantan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar